Bicara tentang Kehidupan Korea Utara memang menarik. Namun saya merasa prihatin bagi teman-teman yang nggak mau cari info lengkap tentang negara ini.
Pas kebetulan nih aku pagi ini iseng surfing tontonan dan ketemu saluran resmi adik-kakak Yahya yang mengundang bapak Berlian Napitupulu Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) periode 2019 hingga 2022.
Fakta dan Data Penting Korea Utara
Di bawah ini sedikit ringkasan data dan fakta mengenai Korea Utara berdasarkan pengalaman beliau selama menjabat. yaitu:
Fakta Tentang Demografi dan Geografi:
- Luas Wilayah: Kurang lebih sebesar Pulau Jawa.
- Penduduk: Sekitar 25 juta jiwa, dengan mayoritas tinggal di daerah pertanian/pedesaan.
- Ibu Kota: Pyongyang, dengan populasi sekitar 3,2 juta jiwa yang didominasi sektor jasa dan administrasi.
Modernitas dan Kehidupan Sosial:
- Teknologi: Terdapat akses telepon genggam dan internet lokal, meskipun tidak terhubung langsung ke internet internasional secara bebas. Mobil mewah dari berbagai merek dunia terlihat di jalanan.
- Mode dan Etika: Tidak ada larangan mutlak terhadap pakaian seperti jeans. Aturan berpakaian lebih mengutamakan kerapian dan kesopanan.
- Kebudayaan: Masyarakat memiliki identitas budaya yang kuat dan otentik. Terdapat festival film internasional dan konser musik populer seperti: Moran Bong Band.
Ekonomi dan Diplomasi:
- Perdagangan: Neraca perdagangan dengan Indonesia tergolong kecil dan banyak dilakukan melalui pihak ketiga karena sanksi ekonomi. Produk Indonesia seperti permen kopi cukup populer di sana.
- Hubungan dengan Indonesia: Memiliki sejarah persahabatan yang erat sejak era Bung Karno dan Kim Il-sung, yang diabadikan melalui bunga Kimilsungia dan berbagai lembaga persahabatan.
Sistem dan Ketahanan:
- Resiliensi: Negara ini menunjukkan ketahanan yang tinggi di tengah sanksi internasional dan keterbatasan sumber daya melalui kemandirian dalam beberapa sektor industri kecil dan militer.
- Kondisi Pandemi: Korea Utara menerapkan lockdown yang sangat ketat di awal pandemi COVID-19, yang membatasi pergerakan diplomatik.
Apakah turis bisa berkunjung ke Korea Utara?
Berdasarkan penjelasan dalam video, wisatawan sebenarnya diperbolehkan berkunjung ke Korea Utara. Sebelum masa lockdown akibat COVID-19, negara tersebut bahkan menerima hingga 600.000 wisatawan per tahun, di mana mayoritas pengunjung berasal dari Tiongkok.
Berikut adalah beberapa fakta terkait kunjungan wisata ke Korea Utara:
- Agen Resmi: Wisatawan diterima melalui agen perjalanan resmi yang telah ditentukan oleh pemerintah.
- Ketersediaan Akses: Ada opsi perjalanan darat dengan bus dari Dandong, Tiongkok, maupun jalur udara dari Beijing atau Vladivostok, Rusia.
- Ketentuan: Wisatawan yang berkunjung biasanya akan didampingi oleh tour leader atau pemandu yang bertugas mengawasi perjalanan agar tetap sesuai dengan aturan yang berlaku. Selain itu, terdapat aturan mengenai batasan pengambilan foto, terutama di area-area tertentu.
Apa saja aturan bagi wisatawan di sana?
Beberapa aturan dan ketentuan bagi wisatawan yang berkunjung ke Korea Utara:
- Wajib Menggunakan Agen Resmi: Wisatawan harus menggunakan agen perjalanan resmi yang ditunjuk oleh pemerintah.
- Pendampingan Tour Leader: Selama berada di sana, wisatawan akan didampingi oleh tour leader atau pemandu yang bertugas memantau perjalanan agar tetap sesuai dengan aturan yang berlaku.
- Aturan Pengambilan Foto: Terdapat batasan dalam mengambil foto. Wisatawan tidak diperbolehkan memotret sembarangan, terutama terhadap aparat keamanan seperti polisi atau tentara. Jika ingin mengambil foto di area tertentu, wisatawan diwajibkan untuk meminta izin terlebih dahulu.
- Kepatuhan Terhadap Ketertiban: Masyarakat dan lingkungan di sana sangat mengutamakan kerapian dan ketertiban. Wisatawan diharapkan untuk mengikuti norma kesopanan dan aturan berpakaian yang pantas, meskipun tidak ada larangan mutlak terhadap pakaian tertentu seperti jeans.
Apa yang dilarang saat berada disana?
Beberapa larangan dan hal yang tidak diperbolehkan bagi orang asing atau wisatawan saat berada di Korea Utara:
- Tidak Boleh Memotret Sembarangan :Wisatawan dilarang memotret aparat keamanan seperti polisi atau tentara tanpa izin. Harus meminta izin terlebih dahulu jika ingin mengambil foto di lokasi tertentu.
- Tidak Boleh Menonton Siaran TV dari Korea Selatan :Akses terhadap siaran atau konten hiburan dari Korea Selatan dilarang dan tidak diperbolehkan.
- Akses Terbatas :Selama masa pandemi, terdapat aturan lockdown yang sangat ketat di mana pergerakan sangat dibatasi, bahkan bagi diplomat sekalipun. Selain itu, wisatawan tidak bisa bergerak bebas tanpa didampingi oleh tour leader atau pemandu resmi.
- Sensitivitas Keamanan :Terdapat batasan ketat terhadap barang dan akses yang dianggap sensitif bagi negara terkait masalah kerahasiaan dan keamanan.
Tambahan Info Menarik Tentang Korea Utara
1. Korea Utara dan Korea Selatan Secara Teknis Masih Berperang
Banyak orang mengira bahwa Perang Korea sudah benar-benar berakhir. Faktanya, perang tersebut berakhir pada tahun 1953 melalui armistice atau perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian perdamaian permanen.
Artinya, secara teknis kedua Korea masih berada dalam kondisi konflik yang belum sepenuhnya diselesaikan. Garis Demarkasi Militer dan kawasan Demilitarized Zone (DMZ) menjadi salah satu simbol paling terkenal dari konflik tersebut.
2. Pyongyang Tidak Bisa Disamakan dengan Seluruh Korea Utara
Salah satu hal penting yang sering terlupakan ketika membicarakan Korea Utara adalah perbedaan antara ibu kota dan daerah lainnya. Pyongyang merupakan pusat pemerintahan, politik, pendidikan, dan berbagai aktivitas penting negara.
Karena itu, kehidupan yang terlihat di Pyongyang belum tentu menggambarkan kondisi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan atau wilayah lain. Ini penting supaya kita tidak membuat kesimpulan bahwa seluruh rakyat Korea Utara mempunyai gaya hidup yang sama.
3. Korea Utara Memiliki Internet Lokal
Istilah internet di Korea Utara juga perlu dipahami dengan hati-hati. Negara tersebut mempunyai jaringan komputer domestik yang dikenal sebagai Kwangmyong. Jaringan ini berbeda dengan internet global yang biasa digunakan masyarakat di Indonesia.
Akses terhadap internet internasional sangat terbatas dan tidak tersedia secara bebas bagi masyarakat umum. Karena itu, keberadaan komputer, smartphone, dan jaringan komunikasi di Korea Utara tidak otomatis berarti masyarakatnya mempunyai kebebasan internet seperti yang kita kenal.
4. Smartphone Bukan Berarti Bebas Mengakses Internet Dunia
Ini mungkin salah satu fakta yang cukup mengejutkan bagi orang yang melihat foto-foto kehidupan modern di Pyongyang. Keberadaan telepon genggam tidak selalu berarti penggunanya dapat membuka Google, YouTube, Instagram, Facebook, atau berbagai layanan internet global secara bebas.
Teknologi perangkat dan kebebasan akses informasi adalah dua hal yang berbeda. Sebuah negara bisa saja mempunyai smartphone, jaringan komunikasi, komputer, bahkan fasilitas teknologi modern, tetapi tetap memberikan pembatasan yang sangat ketat terhadap informasi yang dapat diakses masyarakatnya.
5. Hubungan Indonesia dan Korea Utara Punya Cerita Panjang
Hubungan Indonesia dengan Korea Utara menjadi semakin menarik jika melihat sejarahnya. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan pemimpin Korea Utara saat itu, Kim Il-sung.
Hubungan historis tersebut bahkan menghasilkan berbagai simbol persahabatan. Salah satu yang paling terkenal adalah Kimilsungia, bunga anggrek yang namanya diberikan untuk menghormati Kim Il-sung dan kemudian menjadi salah satu simbol hubungan kedua negara.
6. Korea Utara Bukan Negara Tanpa Budaya
Ketika mendengar nama Korea Utara, sebagian orang mungkin hanya membayangkan parade militer, rudal, tentara, dan propaganda. Padahal, negara tersebut juga mempunyai seni, musik, film, tari, olahraga, serta berbagai tradisi budaya.
Contohnya adalah Moranbong Band, kelompok musik perempuan yang terkenal di Korea Utara. Kehadiran kelompok musik seperti ini menunjukkan bahwa kehidupan budaya tetap menjadi bagian dari masyarakat Korea Utara, meskipun perkembangan dan ekspresinya berada dalam lingkungan sosial-politik yang sangat berbeda dengan negara lain.
7. Pengalaman Wisatawan Tidak Bisa Disamakan dengan Kehidupan Warga Lokal
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting bagi siapa pun yang tertarik dengan wisata Korea Utara. Perjalanan wisatawan asing di sana bukanlah pengalaman yang sama dengan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
Wisatawan biasanya mengikuti itinerary yang telah diatur, menggunakan agen perjalanan resmi, dan didampingi pemandu. Karena itu, apa yang dilihat wisatawan merupakan bagian dari pengalaman yang sudah diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Hal ini bukan berarti seluruh pengalaman wisatawan pasti palsu. Namun, kita tetap perlu memahami konteksnya ketika melihat video perjalanan atau cerita seseorang yang pernah berkunjung ke Korea Utara.
Kesimpulan
Dari penjelasan Berlian Napitupulu selama menjadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Utara, ada satu hal yang menurut saya cukup menarik: Korea Utara ternyata tidak sesederhana gambaran yang sering kita lihat di internet. Negara ini memang memiliki sistem politik yang sangat tertutup, aturan yang ketat, serta akses informasi yang jauh lebih terbatas dibandingkan negara-negara lain. Namun, di balik itu semua tetap ada kehidupan masyarakat yang berjalan seperti manusia pada umumnya.
Ada orang yang bekerja, belajar, berkeluarga, menikmati musik, menggunakan telepon genggam, bepergian, berdagang, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Pyongyang sebagai ibu kota juga memiliki fasilitas modern dan kehidupan perkotaan yang cukup berkembang, meskipun kondisi tersebut tentu tidak bisa dianggap mewakili seluruh wilayah Korea Utara.
Hal lain yang tidak kalah menarik adalah hubungan antara Indonesia dan Korea Utara. Hubungan kedua negara ternyata mempunyai sejarah yang cukup panjang, terutama sejak era Presiden Soekarno dan Kim Il-sung. Jadi, hubungan Indonesia dengan Korea Utara bukan sekadar hubungan diplomatik biasa, tetapi memiliki sejarah persahabatan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Namun, kita juga perlu melihat Korea Utara secara objektif. Informasi mengenai kehidupan masyarakat di negara tersebut memang tidak mudah diperoleh karena akses media dan informasi internasional sangat terbatas. Karena itu, pengalaman seorang diplomat, wisatawan, jurnalis, maupun sumber resmi pemerintah sebaiknya dilihat sebagai bagian dari potongan informasi, bukan sebagai gambaran mutlak mengenai seluruh kehidupan masyarakat Korea Utara.
Menurut saya, justru di sinilah menariknya membahas Korea Utara. Kita tidak harus langsung percaya bahwa semua hal di sana buruk, tetapi juga tidak perlu menganggap semuanya baik-baik saja. Melihat sebuah negara secara lebih lengkap berarti berani melihat sisi yang berbeda sekaligus memahami konteks di baliknya.
Jangan Menilai Negara Hanya dari Potongan Video
Menurut saya, bagian paling menarik dari pembahasan Korea Utara justru bukan tentang apakah negara tersebut modern atau tertinggal, baik atau buruk, bebas atau tertutup. Yang lebih menarik adalah bagaimana kita belajar membedakan fakta, pengalaman pribadi, propaganda, opini, dan informasi yang belum bisa diverifikasi.
Internet membuat kita bisa melihat berbagai sudut dunia hanya melalui layar. Tetapi ironisnya, semakin banyak informasi yang kita lihat, semakin besar pula kemungkinan kita mendapatkan informasi yang hanya menunjukkan satu sisi.
Korea Utara adalah contoh yang cukup ekstrem. Informasi dari pemerintah memiliki sudut pandangnya sendiri. Media internasional mempunyai perspektifnya sendiri. Wisatawan mempunyai pengalaman pribadi. Diplomat mempunyai pengalaman berdasarkan tugasnya. Sementara masyarakat lokal mempunyai pengalaman hidup yang mungkin tidak seluruhnya dapat diketahui oleh orang luar.
Jadi, kalau kamu bertanya seperti apa sebenarnya kehidupan Korea Utara, mungkin jawaban paling jujur adalah: jauh lebih kompleks daripada sekadar apa yang terlihat di televisi, YouTube, atau media sosial.
Semakin tertutup sebuah negara, semakin penting bagi kita untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Pada akhirnya, Korea Utara tetap menjadi salah satu negara paling unik di dunia. Bukan hanya karena sistem politiknya, tetapi juga karena sejarahnya, budaya masyarakatnya, hubungan diplomatiknya dengan Indonesia, serta bagaimana negara tersebut bertahan di tengah berbagai tekanan internasional.
Dan menurut saya, mendengarkan pengalaman langsung seorang diplomat Indonesia seperti Berlian Napitupulu memberikan perspektif yang menarik. Bukan untuk membuat kita langsung percaya bahwa semua informasi tentang Korea Utara benar, tetapi untuk membuat kita sadar bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dan kompleks daripada apa yang selama ini kita lihat dari layar smartphone.
Diskusi & Komentar